Slider

Profil Madrasah

AL ITTIHAD

ARTIKEL

SERBA SERBI

SISWA

Gallery

» » » » PERJALANAN MADIN PONPES NTI


PERJALANAN MADIN PONPES NTI
AL-Ittihad,edisi 6 – Madrasah Diniyyah yang baru berjalan satu tahun pada ponpes Nahdlatut Tholibin al-Islamiyyin (NTI),telah membawa perkembangan baru pula bagi para santri.Diniyyah ini terdiri dari 6 halaqoh (kelasbaik putra maupun putri.Para santri diharuskan dapat membaca kitab yang dipelajarinya.



Diantaranya yang paling kecil kitab akhlaqul banin pada kelas 4 dan 5,kitab mathlul ghoyah  wa taqrib pada kelas 6,kitab lainnya seperti ;kitab kuning yakni,kitab ta’limul muta’alim,tafsirdan imriti sudah dipelajari pada diniyyah putri,tepatnya di kelas4.pembelajaran yang diajarkan harus bisa membaca makna jawa atau disebut tulisan pegon.
Pembelajaran yang diajarkan menganut zaman K.H muhyidin dan K.H. Zaenal Arifin, beliau mengajar para santri dengan istiqomah. Salah seorang pengajar madin, K. mukhtar menyatakan pembelajaran disampaikan dengan sabar, pertama kali santri dibimbing untuk bisa menulis dan membaca, kemudian diperintah menghafal pelajaran.
                “ pokok-pokoknya seperti: di kelas 4 madin harus hafal aqidatul awwam, di kelas 3 madin harus hafal alala,di kelas 2 madin harus hafal syair ro’sun sirah, ditingkatkan lagi pada tingkatan 5 yaitu tingkatan wustha harus hafal jurumiyyah, di kelas 6 wustha harus hafal imrithy dan maqsud,” jelas K. mukhtar.
                K. mukhtar juga mengungkapkan prinsip yang selalu diajarkan bagi para santri yakni harus bersungguh-sungguh, karena guru itu digugu dan ditiru.
                Seorang santri putri Rofi’atul Ulya, mengaku dengan adanya madin ini dapat membantunya memahami kitab-kitab yang sebelumnya belum diketahui.
                  madin ini sangat membantu untuk menambah wawasan bagi santriwan santriwati khususnya yang baru belajar maupun yang sudah lama,” Ujarnya.
                Selasa,(19/9) pengajar madin putri Ustadzah Khusniatun Ni’amah berharap dengan adanya madin ini para santri dapat membaca kitab dengan lebih baik lagi, begitu juga tahun kedepannya.
                Namun ada beberapa hal yang belum berjalan, seperti belum adanya kegiatan musyawarah juga sistem surogan. Para santri akan mampu melaksanakan sorogan apabila telah memahami nahwu shorof.
Sistem sorogan sendiri terbagi menjadi 3 yaknis:
 -     murid membaca guru menyimak
-          Guru membaca murid menyimak, kemudian murid membaca yang telah dibacakan guru
-          Murid membaca kitab gundul (tanpa kharakat) guru hanya menyimak dan membenarkan. (Novita/Aminy – MA/Red)


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply