Slider

Profil Madrasah

AL ITTIHAD

ARTIKEL

SERBA SERBI

SISWA

Gallery

» » » Mencipatkan Generasi Tanpa Nikotin

Mencipatkan Generasi Tanpa Nikotin
Oleh : Abdul Matin *)
tanpa nikotin
Kebutuhan adalah salah satu aspek psikologis yang menggerakan mahluk hidup dalam aktivitas-aktivitasnya dan menjadi dasar atau alasan bagi setiap individu untuk berusaha. Ada tiga jenis kebutuhan yakni kebutuhan primer atau yang wajib dilakukan saat ini juga, kebutuhan sekunder atau yang bisa dilakukan kapanpun, dan kebutuhan tersier atau pelengkap. Kebutuhan dipengaruhi oleh kebudayan lingkungan, waktu dan agama. Makan pakaiaan pendidikan dan kesehatan merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Tapi, ada suatu hal yang menarik pada sebagian rakyat indonesia. Banyak dari mereka yang menganggap makan minum dan kesehatan itu memang penting. Namun, sebagian mereka juga menganggap merokok adalah hal yang lebih penting.
Setiap lini kehidupan di Indonesia tak luput dari adanya rokok, misalkan pejabat, kyai, polisi,
pengusaha. Seorang wartawan yang sibuk dan dikejar tenggat waktu mengaku sulit berpikir dan berkonsentrasi bahkan kehilangan inspirasi jika tidak merokok. Bahkan pengamen yang jelas-jelas orang pinggiran sebagian dari mereka adalah para pecandu berat rokok, meskipun hidup serba pas-pasan. Sehingga bisa dikatakan kalau merokok itu yang awalnya hanya lah sebuah kebutuhan pelengkap, kini secara tidak langsung berubah menjadi kebutuhan primer atau yang wajib dipenuhi (diutamakan.)
Tanpa disadari, rokok menjadi salah satu penyebab banyaknya kemiskinan yang ada di Indonesia. Banyak orang mengatakan jika setelah merokok akan merasa beban di kepalanya menjadi hilang. Memang seperti itu akibat yang ditimbulkan dari merokok. Karena, rokok yang berbahan baku dari tembakau ini memiliki kandungan metabolis skunder yang bisa membuatnya bermanfaat sebagai pestisida dan bahan baku obat penenang. Sehingga wajar saja kalau lebih banyak orang miskin yang menggunakan rokok dibandingkan orang kaya. Karena, orang yang terjebak dalam kubangan kemiskinan dan serba kekurangan sehingga membuatnya pusing. Ia akan berusaha menenangkan dirinya dengan cara merokok. Jadi bisa disimpulkan kalau orang miskin yang kecanduan merokok akan berpotensi semakin miskin.
Di Indonesia kita mungkin sering menjumpai tanaman tembakau. Tembakau adalah tanaman pertanian semusim yang bukan komuditas pangan melainkan komunitas perkebunan. Pada dasarnya, tanaman ini dikonsumsi bukan untuk makanan tetapi sebagai pengisi waktu luang, yaitu sebagai bahan baku pembuatan cerutu dan rokok. Dengan penduduk dua ratus juta lebih yang sebagian dari penduduknya adalah perokok membuat banyak petani yang menanam tanaman tembakau untuk memenuhi pasar dalam negeri. Tembakau ini mengandung senyawa candu yang biasa disebut nikotin. Nikotin atau neurotoksin mampu untuk mematikan serangga dan dapat menimbulkan efek candu. Sehingga senyawa tersebut membuat banyak sekali orang yang menjadi pecandu rokok.
Bahkan seorang pecandu bisa menghabiskan satu batang rokok itu hanya sepuluh kali hisapan atau sekitar lima menit. Bisa dibayangkan saja kalau satu hari satu malam pasti akan menghabiskan berpuluh-puluh batang rokok yang dihisap. Sehingga bisa diartikan jika di Indonesia adalah pasar yang besar untuk penjualan rokok. Tak mengherankan, jika adik-kakak R Budi Hartono dan Michael Hartono menjadi orang terkaya di Indonesia. Dengan penghasilan yang hanya diperoleh dari usaha Perbankan dan pabrik rokok.
Beberapa ahli telah mengandaikan nikotin pada rokok itu sama dengan zat adiktif yang sama pada heroin. Dampaknya, dapat menyebabkan tubuh secara berkala akan mulai ketagiha. Selama seorang perokok belum terkena penyakit yang ditimbulkan akibat kebiasaan merokok bisa dipastikan ia akan tetap melakukannya terus menerus. Seperti yang dikutip dalam detik health, rokok itu mengandung empat ribu senyawa kimia yang empat puluh di antaranya itu termasuk racun (taksik) atau karsinogenik (penyebab kanker). Tidak pandang bulu ribuan senyawa berbahaya itu akan masuk pada orang-orang yang menghisap asap rokok dan bahkan orng-orang yang berada di sekitarnya. baik itu laki- laki, perempuan bahkan lansia atau anak-anak akan terkena dampaknya.
Saat ini hal yang paling penting untuk menaggulangi agar dampak merokok agar tidak semakin meluas dengan mendidik melalui ketauladanan. Banyak pelajar merokok itu diakibatkan karena bapaknya adalah perokok dan atau di sekolahan ia memiliki guru pecandu rokok. Sehingga ia meniru kebiasaan merokok bapak atau gurunya tersebut. Jadi, mendidik dengan ketauladanan itu sangat berpengaruh untuk mendidik seorang anak.
Kedua, mengeluarkan Fatwa haram untuk rokok. Dengan memiliki madharat yang lebih banyak daripada manfaatnya seharusnya MUI (Majlis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa haram untuk rokok. Sebab, jika masih saja dianggap makruh, maka banyak orang akan terus merokok. Jika dipikir mendalam, penulis yakin dalam nurani setiap orang menginginkan geenrasi tanpa nikotin.
*) Penulis adalah siswa kelas XI MA Unggulan Ulumiyyah, peserta kelas menulis Al-Ittihad.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply