Slider

Profil Madrasah

AL ITTIHAD

ARTIKEL

SERBA SERBI

SISWA

Gallery

» » » BANGGA KARENA JADI SANTRI


BANGGA KARENA JADI SANTRI
          Sosok yang bersahaja, ramah, sabar, menjadi panutan bagi santri.itilah bapak ngalimun, putri pertama dari 4 bersaudara yang terlahir dari pasangan bapak sumani dan ibu suppingah.
            Kini bapak Ngalimun menyandang setatus sebagai kepala desa Taunan, dan mempunyai toko material yang bernama Tb Liman Jaya Taunan, dan kini juga sudah mendirikan MTs Darussalam yang baru mempunyai dua ruangan dan madin (Madrasah Diniyyah), dibawah naungan yayasan An-Nuroniyyah.
            Dari kecilnya bapak Ngalimun dibesarkan dari keluarga sederhana, Bapaknya sendiri pengrajin genteng di desa Taunan dan ia sendiri sudah dibentuk karakter oleh bapaknya dari sejak kecil.

            Di masa mudanya,  ia sempat mengenyam pendidikan di pondok pesanten Nahdlotut Tolibin Al-Islamiyyin tepatnya di Kebonharjo selama kurang lebih tujuh bulan. Alasan ia mondok di NTI karena identik adanya kelapa bercabang. Di kebonharjo awalnya ia belum bisa untuk mengaji, ia mengatakan ketika maknani kitab ia mengguinakan sepidol sehingga huruf arab yang warnanya kuning jadi hilang karena tertutup dari tginta sepidol. Akan tetapi berkat dorongan semangat dari Romo KH. Sahli Ridwan ia selalu semangat dalam mencari ilmu “kapan pun dan dimanapun berada kamu harus tetep mengaji” dawuhnya kyai Sahli yang selalu teringat di fikiran bapak Ngalimun yang  tidak bisa terlupakan.
            “Di kebonharjo saya sering pulang, karena itu saya dipindah oleh bapak di pesantren kemadu, saya minta izin mbah yai sahli kemudian diizinkan. Saya mondok di kemadu atas dasar mbah yai sahli diterima,dan disinilah saya mulai bisa mengaji kurang lebih selama 6 tahun yang awalnya belum seberapa dan itu merupakan tindak lanjut dari bonharjo, dan tidak bisa terlupakan ketika saya nyantri di bonharjo,”ujarnya.
                Setelah mondok ia pulang, ketika dimasyarakat ia masih muda dan berumur 21 tahun. Di lingkungan masyarakat seorang remaja hendaknya selalu hadir ketika ada acara nonton vidio, namun bapak ngalimun untuk menghindari hal itu karena ia santri akhirnya ia menikah dengan usianya yang masih muda.
            “Setelah saya menikah saya mempunyai inisiatif bekerja dan beramal. Dan juga saya ingin mempunyai 7  anak didik saja yang ingin kuasuh sampai tamat alqur’an. Walaupun kita mempunyai ilmu sedikit harus diajarkan kepada masyarakat dengan sikap peduli dan hendaknya dilandasi dengan sifat jujur dan ikhlas artinya jujur yaitu tidak mengada-mengada(isite iku yo iku) yang selalu kutanamkan dalam hatiku,” kata bapak Ngalimun.
            Lama kelamaan banyak masyarakat yang percaya bahwa didikannya bapak Ngalimun sangatlah baik. Akhirnya banyak masyarakat yang menaruh anaknya untuk mengaji di rumahnya.
            Ia menuturkan, pada awalnya tempat yang saya gunakan untuk mengajar masih di rumah, berhubung semakin banyaknya murid saya alihkan di mushola pada tahun 1999. Pada tahun 2004 saya  berusaha kecil-kecilan dengan membuka toko material dengan modal 6 juta, dan menyewa tanahnya orang, itupun barang dagangannya masih banyak yang ditaruh di luar.  Pada tahun 2006  sudah punya usaha ples beli tanah, karena saya san-3 banyak masyarakat  yang percaya khususnya para petani untuk menitipkan uangnya disaya karena kawatir habis dan itu diambil ketika musim labuhan. Dari uangnya masyarakat itu saya gunakan untuk kulaan material dan alhamdulillah pada tahun 2007 saya haji pada bulan Desember dan pulang pada bulan Januari 2008. Pada tahun 2009 mendirikan diniyyah An-Nuroniyyah, dan pada tahun 2013 ada pencalonan kepala desa tepatnya pada tanggal 25 November.
            “Dadi santri ojo cilik ati, lan minder karena yang namanya berlian ketika ditempatkan dimana saja masih saja tetap berlian, yang namanya imam tidak usah kita minta tapi diminta. Masyarakat akan menilai ples tersendiri. Dan saya serndiri selalu berpegang beteguh pada 4 sifat Nabi yaitu: Siddiq, amanah, tablik, fathonah,” tandasnya.
            Ia menambahkan, saya menjadi kepala desa tidaklah atas dirinya sendiri karena saya santri banyak golongan masyarakat 1-7 yang berdatangan kerumahku untuk mencalonkan saya sebagai kepala desa, bermula para kaum tua yang datang kerumahku untuk menawarkan untuk menjadi kepala desa dan itupun kutolak,setelah itu datang lagi dari dari kaum remaja  itupun juga kutolak sampai tujuh kali, akhirnya saya bersedia.
            “ Karena saya santri masyarakat memandang atas tingkah laku dan kesibukan setiap hariku memilihku untukmenjadi kepala desa dan kebetulan pada waktu itu calonnya hanya saya sendiri,” imbuhnya.
            Pada tahun 2016 bapak Ngalimun mendirikan MTs Darus Salam dibawah naungan yayasan An-Nuroniyyah dan dari kegiatan desa yang bersifat islami ia sudah membentuk jama’ah fatayat muslimat yang dilakukan setiap jum’at pon dari 8 dukuhan didesa Tahunan yang dilakukan secara bergilir.
            “amalkanlah secara ikhlas lillahita’ala pada 4 sifat Nabi yaitu: Siddiq, amanah, tablik, fathonah,” ujar kepala desa yang ramah  dan sabar.

            Bapak Ngalimun memiliki prinsip agar apa yang dimilikinya itu benar-benar tertularkan dikalangan anak didik maupun masyarakat. Sehingga kelak menjadi manusia yang khoirunnas anfauhum linnas artinya kita bisa membantu orang lain ketika sedang membutuhkan, bukan kita yang memberatkan pada oranglain.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply