Pancasila dan Globalisasi
Oleh : Rohmad Sholikin *)
Oleh karena itu pejuang Indonesia membuat pilar-pilar bangsa di antaranya ialah Pancasila, yang diusulkan oleh Soekarno, Mohammad Yamin, Soepomo yang berdasarkan kecocokan akan suku dan budaya di tanah air. Pancasila berdasarkan lafadznya memiliki makna lima dasar yang diambil Bahasa sansekerta, yang dijadikan sebagai dasar Negara wajib ditaati dan diamalkan sesuai ketetapannya.
Di era globalisasi perkembangan teknologi semakin maju. Mindset manusia yang terbuka dan mudah menerimanya akan menjadikan sesuatu cepat berubah. Masa depan lebih mudah diraih. Namun, mereka dituntut harus menyesuaikan perkembangan zaman dan berkarya.
Dampak yang ditimbulkan dari globalisasi secara tidak langsung akan berdampak begitu besar, Manusia akan lebih mudah menuruti kemauannya. Akan tetapi, jika seseorang tidak bisa menyaring arus globalisasi justru akan menjadi korban sisi negatif globalisasi. Jadi kepuasan seseorang terhadap globalisasi tidak selalu menguntungkan tetapi juga bisa merugikan. Semua itu tergantung bagaimana cara menikmati globalisasi.
Secara realitas, pelaksanaan Pancasila saat ini belum sepenuhnya. Mungkin hanya sial pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa),bersatu Persatuan Indonesia yang baru sepenuhnya diamalkan. Adanya globalisasi seseorang akan sulit untuk bersifat manusiawi (Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab), menjadi pemimpin yang merakyat (Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan), selalu adil (Keadilaan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia).
Untuk mensingkronkan globalisasi dengan Pancasila itu sangat sulit karena hati seseorang sering akan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan. Kebanyakan orang mejalankan Pancasila hanya beberapa saja, tidak sesuai aturan-aturan yang telah diterapkan oleh Negara dengan pertimbangan atas kesepakatan bersama.
Globalisasi bisa singkron dengan Pancasila jika mendapat dukungan dari dalam jiwa. Seseorang menikmati globalisasi akan tetapi masih tetap berpegang teguh pada sila-sila Pancasila. Jadi kita bisa menggunakan apa yang ada pada perkembang zaman semisal kemajuan teknologi, tetapi tetap harus bisa menjaga nilai luhur Pancasila.
Penulis akan menjabarkan berbagai dampak globalisasi, khususnya dampak terhadap Pancasila. Pertama, Pancasila hanya sebagai slogan. Dengan adanya perkembangan globalisasi seseorang akan terarah pada suatu kemewahan yang tak terbatas apapun. Akan tetapi kemewahan tersebut tidak selalu berkecimpung kepada sesuatu yang baik.
Kedua, turunnya moral. Dalam kehidupan ini tidak akan luput dari kata moral atau akhlak yang disenangi banyak orang. Dari kesopnan seseorang inilah yang mejadi tolak ukur kebaikan (hati dan jiwa). Oleh karena itu dalam hidup bermasyarakat dianjurkan untuk bertingkah laku baik. Di dalam sila Pancasila yang kedua telah termaktub “kemanusiaan yang adil dan beradab”, kalimat tersebut mengutarakan bahwa untuk menjalankan hidup agar bisa menciptakan suasana yang aman, tentram dan damai.
Ketiga, kenakalan remaja dan kejahatan semakin bertambah. Hal yang tak bisa dipungkiri oleh setiap manusia dalam kehidupan adalah sifat buruk. Meskipun sifat itu pada setiap hati nurani seseorang tidak ingin dimiliki tetapi hal tersebut sudah mutlak tertanam dalam jiwa.
Keempat, hilangnya nilai-nilai Pancasila. Dengan mengingat sekilas tentang history of freedom (sejarah kemerdekaan) seseorang akan teringat bagaimana jerih payah dalam memperjuangkan dan membela Negara. Kejadian itu adalah awal yang menjadikan berdirinya Negara, khususnya Indonesia.
Dari hal di atas penulis berusaha menyimpulkan bahwa dari dari globalisasi seseorang bisa saja mengabaikan Pancasila. Setelah seseorang tersebut berbuat sesuatu tanpa menggunakan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, maka penanaman nilai filosofi berdirinya negaa ini juga semakin luntur. Pancasila sebagai jalan kehidupan bangsa Indonesia akan semakin kalah pamor dengan produk globalisasi.
*) Penulis adalah siswa kekas XI MA Unggulan Ulumiyyah, peserta kelas menulis Al-Ittihad.

Tidak ada komentar: